Saat riset mengenai homeschool, saya mengenal istilah “afterschooling” atau bisa juga dibilang “part-time homeschooling”. Dengan menyerahkan tanggungjawab “akademik” kepada sekolah, bukan berarti tugas orangtua dalam pendidikan anak selesai sampai disitu, dalam hal ini, istilah “part-time homeschooling” menjadi makes sense bagi saya.
Yang dimaksud part-time homeschooling tentu saja bukan sekedar membantu anak mengerjakan pe-er, tapi lebih seperti kegiatan bersama keluarga yang terjadwal. Selain mempererat hubungan keluarga, kejadian seperti anak bosan/tidak betah dirumah atau bahkan bingung selama liburan mau ngapain, karena sebagian besar kegiatannya selalu dilakukan diluar rumah bersama teman-teman, mungkin tidak perlu terjadi.
Bagi orangtua yang tertarik homeschool, tapi masih ragu-ragu, mungkin part-time homeschooling bisa dilakukan sebagai bagian dari kebersamaan keluarga. Tapi tentu saja, mungkin dengan kegiatan sekolah yang cukup padat, orangtua perlu mensiasati part-time homeschooling ini supaya anak tidak menjadi terlalu lelah.
Berikut tips-tips yang bisa saya intisarikan:
- Jadwalkan kegiatan rutin bersama keluarga, dan libatkan anak dalam perencanaan.
Jadwal bisa menjadi mingguan (kegiatan dirumah) dan bulanan atau tiga-bulanan (kegiatan ke luar rumah).
Untuk kegiatan dirumah, jadwalkan kegiatan-kegiatan sederhana yang bisa dilakukan bersama anak. Misalnya seperti memasak kue atau menonton DVD bersama bisa menjadi kegiatan rutin yang menyenangkan. Jangan lupa, libatkan juga anak dalam perencanaan.
Contohnya, dalam kegiatan membuat kue bersama, orangtua dan anak bisa merencanakan bersama jenis kue yang akan dimasak, pencarian resep bisa dilakukan sampai search ke internet atau ke perpustakaan/toko buku. Pembelanjaan bahan dasar kue ke swalayan juga bisa menyenangkan.
Intinya, buatlah hal sederhana menjadi istimewa.
Kegiatan diluar rumah bisa dilakukan tanpa perlu keluar ekstra uang. Coba cari jadwal kesenian di Taman Ismail Marzuki mengenai pameran lukisan atau pertunjukan teater. Selain itu, bisa juga dilakukan Jalan-jalan ke museum, kantor pos, bank, stasiun kereta, bandara, dll. Kenapa harus menunggu dan bergantung pada kegiatan field trip dari pihak sekolah, kalau kita bisa melakukannya juga?
- Rencanakan proyek bersama
Cobalah merencanakan proyek bersama yang bisa dilakukan dengan anak. Entah itu proyek jangka pendek atau jangka panjang. Misalnya saja, seperti berkebun. Mulai dari penanaman hingga panen, selain perlu perencanaan dan pencarian informasi yang cukup, mungkin orangtua dan anak bahkan perlu mendapatkan ”pelatihan” atau ”informasi” dari yang lebih berpengalaman, sehingga mungkin perlu adanya kunjungan, dlsb.
- Dokumentasikan kegiatan Anda!!
Yang membedakan homeschooling dari kegiatan lain, mungkin adalah tentang dokumentasi. Walaupun anak belajar ke sekolah, bukan berarti orangtua tidak bisa membuat porto folio juga seperti halnya homeschooler. Coba dokumentasi kegiatan bersama melalui video atau kamera, Semangati anak Anda untuk membuat tulisan/cerita mengenai kegiatannya, dan coba tuliskan ”pelajaran” apa saja yang didapat anak hari itu.
- Buat follow-up-nya!
Mirip-mirip seperti kegiatan tematik/unit studies, bila memungkinkan, cobalah membuat follow-upnya setelah kegiatan berakhir. Diskusikan bersama anak apa saja yang sudah dilakukan, lalu coba lihat apakah dari diskusi tersebut bisa memperluas dan membuat cabang bagi kegiatan-kegiatan baru. Misalnya setelah menonton DVD kartun penguin, mungkin anak menjadi ingin tahu mengenai penguin dan kehidupannya sehingga akhirnya perlu search ke internet atau menyewa DVD discovery channel mengenai penguin yang asli. Pengetahuan tentang penguin mungkin bisa menimbulkan proyek baru mengenai kehidupan di antartika, dlsb.
Semoga bermanfaat!